Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 November 2013

Siswa-Mahasiswa-Pengangguran

Tidak terasa gue sudah menghabiskan waktu lebih dari 5 tahun untuk menyelesaikan sebuah gelar formal akademik, yaitu sarjana, atau disingkat menjadi S1. Berawal dari tahun 2007, hingga sebuah proses sidang skripsi pada tanggal 18 Desember 2012.

Setelah ditotal, gue mengikuti pendidikan formal dengan rincian:
a. TK 1 tahun
b. SD 6 tahun
c. SMP 2 tahun (gue ikutan program akselerasi)
d. SMA 3 tahun
e. S1 5 tahun
atau bisa dibilang, kurang lebih selama 17 tahun gue duduk dibangku sekolah formal, 12 tahun menjadi siswa, dan 5 tahun menjadi 'maha' siswa, yang menurut gue sebuah istilah yang sangat aneh.

Kenapa harus ada kata Maha di depan siswa? Menurut gue, Maha itu hanya kepada yang Maha satu, yang Maha Kuasa, Allah swt, yang Maha segala. Di bahasa inggris pun tidak ada embel-embel Maha dalam penyebutan seorang pelajar, ketika mengikuti program S1, S2, dan juga S3. Ya sudahlah.

Ketika gue menjadi siswa, dan mengikuti ujian akhir nasional (UAN), entah kenapa gue nyantai dan tidak terlalu khawatir, seolah ada jaminan bahwa gue pasti lulus. Namun ketika mengikuti sidang skripsi, entah kenapa, gue campur aduk rasanya. Antara was-was, senang, sedih, dan bercampur haru. (-___-") Namun benar adanya seperti itulah yang gue rasakan. Ketika kita mengikuti sebuah ujian akhir, rasa dagdidgdug sangat terasa. 

Oke, sudah lewat yangnamanya sidang. Wisuda pun sudah selesai. Kini tinggal menghadapi yang dinamakan dunia nyata. Jungkir balik mencari lowongan kerja, demi satu tujuan yaitu untuk menjadi kaum penghasil uang.

Dari mulai mencari di internet, koran, sampai menyusuri pabrik-pabrik buat sekedar cari info dan bisa memasukkan lowongan kerja. Namun tetap nihil sampai detik ini. Pernah memang ada rasanya sedih, melihat yang lain sudah mampu berkegiatan, bahkan sudah mampu berfoya-foya dengan uang penghasilannya sendiri. Bahkan ada saja yang masih menggoda gue bilang bahwa "Koq lulusan anak Teknik masih nganggur?" dan sebagainya, dan sebagainya.

Menjadi pengangguran bagi sebagian orang mungkin dianggapnya sebagai sebuah takdir. Tapi semakin gue pikirkan, sepertinya bukan takdir, tapi pilihan. Orang memilih untuk mengganggur atau tidak, itu dia yang memutuskan. Pengangguran lebih cenderung kepada konotasi "tidak menghasilkan uang", bukan? Apalagi dewasa sekarang ini, disaat jamannya kapitalisme merajalela, dunia hedonis semakin marak merasuk ke pikiran para kaum pekerja, maupun non pekerja, contoh lah pengangguran. 

Budaya kapitalis yang membuat kita menjadi tertuntut untuk bisa dan harus untuk menghasilkan uang, diantaranya dari gaya hidup, contoh telepon genggam, udah ga jaman tuh yang namanya pake telepon genggam tanpa android, apalagi sekarang bisa menggunakan fasilitas BBM (Blackberry Messenger) di android tersebut. Yang tipe androidnya ketinggalan jaman, pengen ganti dengan yang baru, yang sudah menggunakan telepon genggam merk blackb*** pada pindah ganti menjadi android. Sah-sah saja memang, toh demi kemajuan telekomunikasi dan informasi, namun entah kenapa sudah menjadi sebuah budaya dan menjadi kebutuhan primer.

Belum lagi gengsi antar orangtua yang saling membanggakan anak-anaknya. Ketika anak yang satu bekerja di perusahaan asing dengan gaji melimpah, semakin bangga lah orangtuanya, sedangkan orangtua yang anaknya menjadi sebuah pemikir tanpa harta melimpah, malah terkadang tidak sebegitu membanggakannya bagi orangtua. Hal ini juga yang membebani kaum pemuda para ex-mahasiswa yang masih tidak memiliki pekerjaan, ataupun hanya memiliki pekerjaan di perusahaan biasa.

Menurut gue pribadi, seseorang yang tidak bekerja pun belum tentu bisa dibilang pengangguran. Ketika otak, pemikiran, dan pola pikir semakin dikembangkan meski tanpa lembaga formal, seseorang dapat dikatakan seorang pelajar, akademisi non formal. Membolak-balik buku, mendengarkan berita, menambah wawasan, dan terus berkarya. Meski bukan termasuk kaum pekerja, namun mampu menjadi kaum kreatif yang terus produktif dalam berfikir dan bertindak, menurut gue itu bukan pengangguran.

Banyak kaum muda yang depresi karena belum rezekinya dia untuk menjadi seorang pekerja. Padahal tidak perlu sampai putus asa dan menyerah, pengangguran itu pilihan, sedangkan rezeki adalah urusan Tuhan Yang Maha Esa. Tetap harus kreatif dan membaca. Baca dan Bacalah.

Baca Selengkapnya ...
Minggu, 03 Februari 2013

Tentang mengkritisi: Ngomong tanpa Bertindak

update twitter 4 Februari 2013

kalo mau memperbaiki, gausah cuma ngemeng2, dan cuma jadi penonton. masuk ke dalamnya, rubah birokrasi yg ada.

hanya mengamati, menjudge, dan tidak tau menahu data statistik yg ada, hanya berupa omong kosong yg tak berujung.

mengkritik itu mudah, mengamati itu gampang,. yg sulit memberikan solusi dan mau untuk merubah ke dalamnya. anda berani? saya tdk yakin

anda siap menjadi pengubah di dalamnya? wong ketika ditanya, anda selalu berfikir secara umum, 'rubah dulu diri sendiri, baru rubah yg lain'

mau sampai kapan? perubahan itu butuh kekonsistenan. berubah mudah, konsisten yg sulit. memperbaiki diri sendiri itu tdk ada ujungnya

apabila terus memperbaiki diri sendiri dan melupakan yg lain, bukannya terkesan egois? terkesan eksklusif? berhentilah untuk terus egois

berani mengkritik dan tidak bergerak. kalau anda siap, sini bareng saya kita merubah bersama tanpa harus banyak bicara.

kita saling berdiskusi, bukan saling mengkritisi yg berimbas utk menjatuhkan. tuangkan ide2 anda dan kita realisasikan bersama.

"berbicara dan mengkritisi itu mudah, tapi bertindak untuk melakukan sebuah perubahan itu yg sulit."
Baca Selengkapnya ...
Sabtu, 01 Desember 2012

Ikhlas: Yang tersembunyi di dalam yang Tersembunyi


Ikhlas itu sesuatu yang tersembunyikan, berbentuk abstrak, dan tidak ada yang mampu menggambarkannya secara detail ataupun nyata.
Ikhlas itu hanya bisa dirasakan, oleh yang merasa dan yang Maha Pemberi Rasa.

Ikhlas itu, sesuatu yang tersembunyi di dalam yang Tersembunyi.
Sebegitu tersembunyi nya sebuah kata ikhlas.

Ketika lidah berucap, "Gw ikhlas" "Gw mengikhlaskan" "Gw udah ikhlas koq", itu semata-mata hanya lidah yang berkata. Untuk rasa yang sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang tau. Bahkan terkadang, diri sendiri pun masih belum tau keberadaan ikhlas di hatinya. 

Memang benar ikhlas itu sulit, namun benar juga ikhlas itu mudah. Sulit sesulitnya menyentuh udara, mudah semudah menghirup udara. Ikhlas itu rumit, namun sederhana. Ikhlas itu ada, namun terkadang seolah tidak ada. 

Keikhlasan rasa cinta terhadap sahabat, keluarga, suami, anak.. Akankah itu diselimuti oleh keikhlasan, ataukah hanya sekadar kewajiban, ataukah ingin mendapatkan timbal balik? Cinta kepada Allah swt, dan pada Rasulullah swt?

Ada sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Ahmad Dhani dan Alm. Chrisye, 
"Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?"

Baca Selengkapnya ...
Kamis, 29 November 2012

Tentang "sindiran"


 teknik menyindir biasanya ampuh untuk mengingatkan sesama saudara kita yang melakukan kesalahan, atau sesuatu yg menyimpang

 namun terkadang teknik ini malah menimbulkan kecurigaan atau rasa sakit hati utk yg tersindir tanpa si penyindir sadari

 hal ini biasanya dilakukan karena apabila bicara secara langsung, malah akan menjadi perang mulut, dan sasaran pun menjadi meleset

 memang konteks untuk menyindir harus dipikirkan secara matang, untuk mendekatkan orang yang kita tuju, bukan malah menjauhkannya

 namun tetap saja, lebih baik menyindir secara langsung daripada harus mendahulukan ghibah
Baca Selengkapnya ...
Rabu, 28 November 2012

Kebaikan yang Dicurigai



Sumber: google.com
"Si A kemaren sumbangannya ke pondok di atas 10 juta loh. Pasti biar bisa diliat orang kaya."


"Ngapain sih mereka pada heboh tentang Palestina, padahal biasanya cuek-cuek aja tuh. Mentang-mentang lagi rame aja, jadi pada latah."

"Ih si B tumben banget Solat Dhuha, pake baca Al-Qur'an pula. Lagi tobat ya mas?"

"Kamu ngapain nikah muda? Ga kuat ya? Udah, kerja dulu, lulus dulu."


Hummm..

Itu beberapa kalimat yang banyak terucap di lingkungan kita saat ini. Ko' orang mau berbuat baik wong dimarahi? Orang mau beramal ko' malah dicurigai, dikutuki? Memangnya surga cuma buat elo doang? Tentu saja jawabannya tidak, bukan?

Kebaikan orang lain kita curigai, sama saja kita berfikiran buruk atau bersuudzon terhadap sesama saudara kita. Silakan bersuudzon, namun sesuai porsinya. Suudzon untuk waspada dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke arah yang tidak baik, atau membahayakan diri sendiri, itu diperbolehkan. Namun apabila suudzon untuk amal perbuatan orang lain, untuk apa? Sebegitu pedulinyakah dengan amal ibadah orang lain?

Seharusnya kita bangga dan bahagia saudara-saudara kita itu diberikan hidayah-Nya untuk berbuat baik, dan mulai peduli dengan nilai spiritualitasnya. Untuk masalah isi hati atau niat yang ada di dalam diri mereka, itu sama sekali bukan urusan kita. Kita tidak berhak ikut campur untuk urusan orang lain dengan nilai spiritualitasnya.

Wajar kita heran atau bertanya-tanya karena adanya perubahan dari saudara kita yang tidak biasanya dia lakukan. Kita merasa asing, dan ada saja perasaan tidak terima dengan nilai positif yang ada di dalam diri mereka. Hati-hati, setan sedang mengaduk-aduk isi kepala kita. Ada rasa iri yang bercampur dengan suudzon serta tidak terima dengan kebaikan orang lain.

Cara untuk menghindari kecurigaan salah satunya dengan perbanyak berfikir positif. Gw pribadi mampu menyelesaikan masalah dengan berfikir positif, meski terkadang terasa sulit, karena banyaknya pikiran-pikiran negatif yang lebih mampu menyerang rongga pikiran dan hati kita. Namun, kekuatan untuk mau berfikir positif mampu dibangun oleh diri sendiri, dengan dibantu masukan-masukan dari lingkungan sekitar yang membangun. Apa salahnya kita tersenyum dan merasa bahagia dengan aura positif yang dipancarkan dari saudara kita? Dan mari kita tambah lagi aura positif yang ada, dengan meningkatkan nilai kebaikan dan ibadah pada diri kita.

Berlomba-lomba untuk kebaikan, bukan berkompetisi untuk memenangkan sebuah kebaikan. jk

Sumber: google.com

Baca Selengkapnya ...
Selasa, 20 November 2012

Sebuah untaian kata tentang Palestina


Palestina..
Menyebut nama negara yang satu ini, cukup menyesakkan jiwa. Gw sengaja bikin postingan tentang ini,  sebagai aksi gw, meski tidak berarti banyak, yang gw minta hanya agar bisa menjadi manfaat, dan kita mampu terketuk hatinya.


Palestina..

Banyaknya aksi yang dilakukan dimana-mana, dan banyaknya umat Muslim yang sudah sangat gerah untuk bergerak meski hanya dengan do'a.  Banyak pula yang bertanya:

"Koq palestina perang mulu ya ama Israel?"
"Bingung yang zionis yang mana? Sama-sama bawa senjata"
"Israel yang kasian ya. Kan Palestina itu jahat."

Pernyataan yang terakhir yang membuat gw semakin miris. Memang ternyata, pengetahuan generasi muda, ataupun tua sudah mulai tergeser dengan banyaknya hiburan-hiburan yang aneka ragamnya disuguhkan baik lewat televisi ataupun lewat media yang lain. Sungguh menyayat hati memang, ketika umat muslim sendiri tidak mau tau tentang kemelut panjang Palestina-Zionis ini. 


Kita masih berperang, secara terang-terangan.


Banyak pula yang mempertanyakan tentang bagaimana, dan apa yang harus dilakukan kita sebagai umat Muslim yang tidak bisa apa-apa. Tidak berdaya, hanya mampu bergerak dan menyuarakan simpati serta dukungan lewat aksi-aksi turun ke jalannya. 

Ada sebuah lembaga, yaitu sahabat al-aqsa (klik disini untuk informasi lengkapnya) yang terjun langsung ke medan perang disana, dengan memberikan bala bantuan semampu mereka. Subhanallah..

Mari kita bersama-sama berdo'a dengan tulus ikhlas. Agar Palestina kembali pada kejayaannya semula.
Tundukkan wajah bersama, dan bersujud di sajadah-sajadah panjang kita, meminta pada-Nya agar diberikan kedamaian.. Bagi Palestina, dan juga kita..

jikajecka.blogspot.com

Insya Allah Palestina akan kita miliki lagi, dengan penuh suka cita. Amin ya Rabb..

Baca Selengkapnya ...
Senin, 19 November 2012

Kawan: Hanya mengingatkan



Tidak ingin menjadi orang yang sombong..
hanya berusaha menjalani perintahNya..
hanya berusaha peduli pada agamaNya..
biarlah banyak yang mengejek..
menertawakan..
menyepelekan..
yang jelas, bukan dia yang menilai..
tapi Dia..
Memang diri ini bukan sang pengendali hati yg baik..

Sungguh ironis ketika mengetahui ini..
perubahan..
Paradigma yang termundurkan..
Ketidakpercayaan..

Hanya mampu berdoa..
Semoga dibukakan kembali hati dan nurani nya..

Diri ini tak pernah membenci..
tak pernah meminta untuk dibenci..


Hanya ingin bilang..
"Hati-hati dengan tulisanmu.. bahasamu..
karna aku pun mencoba berhati-hati..
Semoga Dia selalu memuliakan jalan-jalan kita.."

Baca Selengkapnya ...

Berani 'Gerak' dan 'Beda'


Ada kalanya seseorang merasa jenuh.. ada kalanya seseorang mencoba untuk menjadi pemain, ataupun penonton.. Mungkin karena pengaruh orang yang berpengaruh baginya.. Mungkin pula akibat pemahamannya yang semakin berbeda.. Mungkin akibat pola pikirnya yang berubah..

Ada juga faktor kenyamanan dan ketidaknyamanan yang mempengaruhinya..
Seorang aktivis bukan non-manusia.. Dia juga memiliki hasrat yang sama dengan manusia lainnya. Standar semua pemikiran manusia.. Ingin bahagia, damai, dan sukses dunia akhirat..

Sumber: google.com
Semua sama ingin surga.. baik manusia biasa, baik seorang aktivis..
Yang membedakan adalah cara, dan pemikiran.. Gerak pun berbeda..
Mungkinkah ada waktunya bagi mereka untuk berhenti bergerak? Tentu tidak.. meskipun ada kalanya ia diam, tapi pemikiran, dan idealismenya pun tak berhenti ataupun terdiam. mereka menggunakan cara yang sesuai dengan pemahamannya. Bukan karena dia punya jabatan atau tak punya jabatan.. Tapi karena cara dia bergerak yang berubah dan berbeda.


Diawali dari sebuah ketidaknyamanannya dalam sebuah pergerakan. Dia menarik diri bukan untuk menghindari jamaah, tapi dia coba untuk melakukan hal lain yang membuat jamaah lebih baik. sesuai dengan pemahaman dan pemikiran yang dia miliki.
Ketika seorang manusia mencapai tingkat kedewasaan, dia mulai berfikir, seorang penggerak, bukan berarti harus frontal dan maju ke garda terdepan. seorang penggerak, bukan berarti harus menjadi orang populer yang dikenal masyarakat luar karena gaungnya yang memang menggelegar. tapi seorang penggerak, adalah yang bisa memanfaatkan waktunya dengan baik tanpa harus menyia-nyiakan waktunya dengan hal yang tidak baik.

Sungguh ironis ketka melihat aktivis-aktivis yang melewati tahap kedewasaannya dengan hanya melakukan tindakan yang tidak berarti, padahal dia melakukan tindakan itu dengan penuh kesadaran dan sepenuh hati, dengan penuh gembira. padahal orang-orang diluar sana menertawakan tindakannya yang seolah terhipnotis oleh kata "jamaah".. tanpa dia ketahui bagaimana sebenarnya tindakan jamaah tersebut.
Ini hanya pemikiran diri ane, setiap orang punya pemikiran masing-masing dan bebas berpendapat ataupun melakukan sesuatu hal. biarkan, jangan dipaksa.. karena semua itu relatif..

terus berjuang.. dan jangan pernah malu untuk menjadi berbeda!


Sumber: google.com

Baca Selengkapnya ...

Pacaran sebagai Pilihan: Ya atau Tidak?

Membahas hal ini, sebenarnya adalah sebuah hal yang cukup sensitif di kalangan generasi muda. Kenapa? Karena hal ini masih menjadi pro dan kontra dengan cara yang berlebihan. Kenapa berlebihan? Karena banyak yang tidak mau diganggu gugat tentang masalah pacaran yang berbau ke arah "Perasaan".

Gw menulis postingan ini, bukan berarti gw ga pernah pacaran, gw pernah berpacaran beberapa kali, dan gw mengakui itu. Berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan obrolan dengan orang lain, akhirnya gw memutuskan untuk membuat postingan ini.

Sebenarnya, apa sih itu pacaran?
Pacaran adalah hubungan tanpa ikatan secara sah, yang hanya terdiri dari ikatan batin dan komitmen. Ketika ada yang bertanya, apa bedanya HTS (Hubungan tanpa Status), TTM (Teman Tapi Mesra), dan pacaran? Gw bisa menjawab, Tidak ada bedanya. Yang berbeda hanyalah biasanya yang HTS dan TTM masih bisa berhubungan dengan orang lain, dan itu tidak dikategorikan selingkuh. Tapi kalau interaksi, menurut gw sama saja, smsan dengan intens, saling memperhatikan, dan lain sebagainya.

Beberapa hal yang membuat orang memilih untuk siap dan berani berpacaran atau HTS, diantaranya:

1. Kesepian 
    Rata-rata banyak yang berpacaran karena alasan ini. Biasanya adalah orang-orang yang tidak memiliki 
   banyak teman, atau mungkin orang-orang yang teman-temannya sudah duluan lulus kuliah ataupun bekerja, 
   sehingga tidak ada teman hang-out. Maka pacaran lah menjadi pilihan.

2. Kasihan
    Ada saja orang yang memutuskan untuk menerima seseorang menjadi pacarnya dikarenakan alasan ini. 
    Misalnya dia sudah lama dikejar-kejar, dan si cowo sudah melakukan apapun demi si cewe, akhirnya 
    karena kasihan, diterima dan mereka pun pacaran. Biasanya pacaran mereka tidak langgeng, karena si 
    cowo akhirnya sadar bahwa si cewe hanya menerima dikarenakan kasihan.

3. Gengsi karena terlalu lama menjomblo
     Biasanya ada sekelompok cewe ataupun cowo yang menjadikan pacaran sebagai taruhan. Apalagi bila 
     dia sudah lama jomblo, atau tidak pernah pacaran. Ini biasanya hanya pacaran main-main.

4. Ingin melakukan yang 'aneh-aneh'
    Tidak dipungkiri, dalam usia-usia produktif baik laki-laki maupun perempuan sudah paham akan hal-hal 
    yang berbau 'aneh-aneh' atau lebih tepatnya masalah 'seksual'. Ada beberapa kasus dimana pacaran 
    dijadikan sebagai tempat pelampiasan nafsu belaka, tanpa didasari nilai apapun. Naudzubillah.. Tapi ini 
    benar adanya dan sudah cukup banyak kasus yang mempublikasikan hal ini. Biasanya ini adalah hubungan 
    paralel, dimana masing-masing dari pasangan memiliki pasangan yang lain. 

5. Terlalu buta
    Maksud buta disini adalah sudah buta akan segala hal. Misalnya ada seorang aktivis dakwah kampus yang 
    jilbabnya besar, tapi memutuskan untuk berpacaran dengan sesama aktivis pula. Biasanya ini dikarenakan   
    adanya godaan setan, dan perasaan yang terlalu menggebu-gebu, sedangkan pernikahan belum bisa 
    dilaksanakan karena berbagai faktor. Akhirnya pasangan tersebut menghentikan karirnya dan malah terus 
    berpacaran. Biasanya hubungan ini pun kandas di tengah jalan, baik karena memang sudah sama-sama 
    sadar, atau memang salah satunya menikah dengan yang lain.

Diantara hal-hal di atas, biasanya memang banyak yang kandas ditengah jalan, ataupun ada juga yang memang berjodoh hingga menuju ke pelaminan. Dan itu bukan ditentukan oleh pacaran, tapi karena takdir Allah swt. Seperti perkataan seseorang,
"Pacaran bisa dengan siapa saja, tapi menikah adalah urusan takdir Allah swt"

Pacaran memiliki nilai positif dan negatif, yaitu:
a. Nilai positif
   Apa ya? Jujur, gw yang sudah berpacaran beberapa kali pun masih bingung nilai positifnya. Ada beberapa 
  yang bilang, keuntungannya adalah bisa mengenal dan memilih calon istri sampai mendapatkan yang terbaik. 
  Tapi menurut gw itu tidak adil, dan malah seperti coba-coba. Tapi memang, pacaran itu memberikan 
  euforia terhadap setiap manusia. Merasa ada yang memperhatikan, merasa bahagia, tapi jujur saja, ketika 
  semua kandas, rasanya semu dan wajar saja, terasa sakit.

b. Nilai Negatif
   1. Boros
      Pacaran itu harus saling traktir, saling jajanin, saling mengeluarkan uang demi kepentingan bersama. Dan 
      harus ada momen jalan-jalan, makan di luar (apalagi anak kosan, bisa jadi miskin mendadak gara-gara 
      pacaran). Belum lagi pulsa yang membengkak. Memang memberikan kebahagiaan, yang penting terasa 
      senang, tapi kasihan orang tua. Benar kan?

   2. Patah hati ketika Putus
      Pernah merasakan patah hati? Oleh cinta pertama? Ditinggalkan ketika sedang menjalani hubungan? 
      Paham kan rasanya? Subhanallah.. Rasa sakit yang luar biasa. 

  3. Memecah konsentrasi
     Ketika sedang ada kepentingan, mengerjakan tugas, atau bekerja, tiba-tiba si pacar sms dan merengek 
     untuk minta diantar ke suatu tempat. Kita bilang tidak bisa, tapi dia malah mengancam untuk putus dan 
     menteror kita. Akhirnya kerjaan kita jadi tidak selesai, dan yang ada malah kesal dalam hati.

  4. Dekat pada Zina
    Ini jelas terjadi pada orang pacaran. Dimulai dari pegangan, pelukan, ciuman, dan sampe hubungan suami-
    istri. Sudah banyak kejadian sex bebas di luar nikah, berganti-ganti pasangan, bahkan sudah jadi tren di 
    kalangan anak muda melahirkan di luar nikah. Astaghfirulloh! Ingat pada dosa, ingat orang tua. Yang malu 
    bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang tua, keluarga besar, sekolah, dan guru-guru kita. Dan hal ini tidak 
    terjadi pada anak-anak yang bergaul bebas, namun juga ada saja kejadian di kalangan orang-orang 'alim' 
    yang berjilbab. Astaghfirulloh..! 

Begitulah fenomena yang terjadi pada orang pacaran berdasarkan dari sudut pandang gw. Dan tergantung pada kalian untuk memilih pacaran. Ya atau tidak. 
Baca Selengkapnya ...

Tua-Muda: Menghargai-Menghormati

Manusia memiliki siklus kehidupan yang tetap: lahir - bayi - balita - anak-anak - remaja - dewasa muda - dewasa - tua - mati. Berbagai tingkatan naik berdasarkan usia manusia di dunia ini. Semakin tua, maka akan semakin dekat dengan kematian.

Sumber: google.com
Kita lewat berbicara tentang kematian. Gw lewat postingan ini, ingin sekedar mengkritik atau menyinggung masalah tata krama yang sudah mulai menurun drastis sesuai perkembangan zaman. Salah satunya yaitu hubungan tua-muda, senior-junior, guru-murid, atau dosen-mahasiswa.
Yang lebih tua, sebenarnya sama dengan yang muda, hanya memiliki dua perbedaan, yaitu: usia dan pengalaman. Kedua hal ini memiliki makna yang penting dalam proses timbal balik di masyarakat luas. Idealnya adalah, yang muda mampu menghormati yang tua, dan yang tua mampu menghargai yang muda.                                                                                                  

Tapi pada kondisi secara umum saat ini, nilai-nilai tata krama, menghormati dan menghargai sudah tergeser dengan sangat ekstrim.
"Adi adalah seorang junior kaya raya di sekolahnya, dan menunjukkan kekayaannya lewat tas, sepatu dan seragam yang dikenakannya. Suatu saat ada seorang senior kelas 3 menegur pakaian yang dia kenakan karena tidak dimasukkan kedalam celana. Adi  melihat pakaian sang senior yang kumel dan kucel, dan nampak bahwa sang senior seorang yang kurang mampu. Karena hal ini, Adi mencela dan tidak mau mendengarkannya. Namun ketika ada seorang senior lagi yang memang anak kepala sekolah menegurnya, baru Adi mau menurut dan membenarkan pakaiannya."

"Ada seorang dosen yang tidak lulus S3, mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta. Beliau mengajar   di kelas dimana ada seorang mahasiswa dengan nilai IPK sempurna. Si mahasiswa tidak pernah tertarik ataupun antusias terhadap dosen tersebut. Ketika ditanya alasannya kenapa, "Beliau tu ga lulus S3, apaan coba berani-beraninya ngajar gw."

Dari beberapa contoh di atas, terlihat bahwa terjadi kemunduran nilai tata krama di dalam pergaulan tua-muda. Ada istilah, "Lo tajir, lo berpengaruh, lo pinter, gw siap jadi suruhan lo. Tapi kalo sebaliknya, jauh-jauh lo dari mata gw." dan ini tidak hanya mempengaruhi hubungan tua-muda, tapi juga terhadap pergaulan teman sebaya.

Memang banyak yang lebih memutuskan untuk 'berbaik-baik' di depan, dan membicarakan di belakang. Tapi tetap itu bukanlah hal yang baik. Sama halnya dengan ghibah. Ataupun ada juga yang lebih ekstrim, langsung menunjukkan ketidaksukaan terhadap yang lebih tua. Ini bukti nyata yang terjadi tidak hanya di lingkungan junior-senior di sekolah ataupun lingkungan kampus, tapi juga hubungan dosen-mahasiswa.

Miris melihat banyak mahasiswa yang menjelek-jelekkan dosennya sendiri. Kalau memang hanya sekedar pelampiasan curhat, silakan saja, tapi sebaiknya tidak harus berlebihan menjelek-jelekkan sampai mengata-ngatai hal-hal buruk sampai keluar bahasa binatang yang tidak sepatutnya. Biar bagaimanapun, mereka itu orang tua kita di lingkungan kampus. Masa tega mengata-ngatai orang tua sendiri? Tidak, kan?
Wajar kesal ketika memang nilai kita jelek atau misalnya kita sulit diberikan pernyataan lulus oleh dosen, tapi kita harusnya mampu ikhlas, dan mengambil hikmahnya..
Apa karena kita yang tidak mampu?
Apa karena kita memang belum maksimal mengerjakannya?
Apa karena kita memang masih harus ditakdirkan mengulang kembali?

Semakin sering kita bertanya terhadap diri sendiri, maka rasa-rasa kesal ataupun rasa tidak enak terhadap beliau bisa dikurangi, dan berganti simpati dan hormat kepada beliau. Gw merasa sangat capek menjadi pengajar yang harus berbicara di depan kelas, mengoreksi nilai-nilai mahasiswa yang sebegitu banyaknya, dan membagi waktu untuk keluarganya, apalagi bila dosen tersebut perempuan. Subhanallah!

Sumber: google.com

Ketika kita mampu menerapkan nilai-nilai tata krama dan harga-menghargai Insya Allah hati tidak selalu panas atau diselimuti amarah. Dan hal ini pun mampu menghindarkan diri dari perselisihan dan perpecahan. Amin ya Rabb!
Baca Selengkapnya ...
Kamis, 15 November 2012

Kemunduran 'mahasiswa'


(ini tulisan menggebu-gebunya seorang maba akibat banyaknya aktivitas yang dilalui. pemikiran kritis dan awam anak baru masuk kampus. ini kalo ga salah waktu itu gw masih aktif dan KAMMI dan juga masi getol-getolnya ikut aksi dan baca buku. Tulisan ini gw publish di blog gw sebelumnya tanggal 21 Juli 2008)


Kemunduran terjadi pada berbagai peristiwa, pada kalangan apapun, dan pada golongan apapun. Kemunduran itupun terjadi pada berbagai atau bahkan keseluruhan aspek yang pernah saya kenal, seperti ekonomi, sosial, moral, dan sebagainya.

Nah, mengapa harus kemunduran yang mengawali wacana ini? Karena itulah hal  yang sedang hangat-hangatnya terjadi pada saat ini, di golongan mahasiswa pada khususnya, dan Negara pada umumnya. Terlalu kejam memang apabila saya harus bilang adanya kemunduran pada para mahasiswa saat ini, dikala makin maraknya para pejuang-pejuang yang memperjuangkan rakyat Indonesia.
Sumber: google.com

Tapi apakah ada yang tau, terdapat elit politik yang bersatu dan "bersekongkol" dengan mahasiswa. Misal, ada sebuah partai tertentu yang secara tidak langsung bekerjasama dengan salah satu organisasi mahasiswa (Ormawa) eksternal yang sedang terkenal-terkenalnya pada saat ini. Memang Ormawa tersebut bersikukuh bahwa mereka tidak ada sangkut pautnya dengan partai tersebut, tapi tetap saja kan mereka selalu bersama-sama? Wong memiliki dasar yang sama dalam pergerakannya.

Disini jelas terlihat partai tersebut tadi memiliki sebuah keberuntungan, yaitu dipercaya oleh organisasi mahasiswa yang cukup terkenal, dan memiliki pengaruh besar oleh masyarakat. Ya, itu sebuah dampak positif bagi sang partai itu, apalagi menjelang pemilu 2009, bisa dengan mudah mereka mencuci otak teman-teman dari Ormawa tersebut untuk mendukung mereka. Bukannya menuduh, tapi hati siapa yang tau?

Jadi dimana letak kemundurannya? Ya itu tadi, kerjasama yang secara tidak langsung terlibat antara mereka berdua. Itu salah satu bukti nyata bahwa kini mahasiswa sudah kehilangan jati dirinya, baik para mahasiswa biasa (yang tipe hedonis atau mungkin yang acuh tak acuh), maupun para aktivis ampus yang selalu berjuang demi kemajuan kampus dan negerinya. Mungkin saja mereka tidak ngeh atas apa yang mereka lakukan, yang mereka tau, hanya mendapatkan informasi yang tepat, dari orang yang tepat, agar bertindak dengan tepat. Tapi apa mereka tidak sadar, mereka telah tersorot dan seolah menjadi antek-antek mereka. Malu dong... Masa ingin dijadikan anak buah?


Kasihan memang para mahasiswa yang dengan semangat juangnya harus dilegitimasi oleh hal tersebut. Tapi itu kenyataannya, sudah hampir tidak ada lagi orang "bersih" didunia ini, apalagi didunia perpolitikan Indonesia, bukankah sekarang politik atas dasar kekuasaan, harta dan kepopuleran telah menjadi Tuhan mereka? Harusnya sebagai mahasiswa yang bukan anak sekolah lagi, mereka harus  dapat menelaah jauh kesana. Jangan hanya memikirkan yang baiknya saja, tapi kita harus memikirkan semua kemungkinan yang bakal terjadi, baik buruknya.

Sekali lagi saya tidak menuduh siapapun, pada golongan apapun. Semoga para mahasiwa mampu mempelajari ini semua dengan baik dan memahaminya. Ini hanyalah realitas yang ada, hidup mahasiswa! 



Sumber: google.com
Baca Selengkapnya ...

Bagaimanakah Cinta para Aktivis??


Tulisan ini gw publish di blog gw yang dulu tanggal 21 Juli 2008)


Cinta, mungkin hanya sedikit yang mampu terlintas di benak para aktivis kampus yang tak sempat meluangkan waktunya untuk bercinta. Atau mungkin tak ada sedikitpun yang terlintas di benak mereka mengenai cinta. Lucu memang, karna saya yakin, jarang sekali ada aktivis yang bisa membagi waktunya dengan para cinta-cinta mereka. 
Kemungkinan yang ada biasanya hanya ada dua, mereka saling mencinta dan meninggalkan perjuangan mereka, atau mungkin mereka dengan tragis mengkandaskan cinta mereka demi memperjuangkan kebenaran.                                   Sumber: google.com

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut riset yang telah dilakukan oleh penulis (saya maksudnya), biasanya sekali seorang aktivis jatuh cinta, mereka sulit untuk  mengendalikan diri dengan perasaan mereka itu. Maunya nempel terus dengan sang pujaan hati. Maklum, biasanya seorang aktivis itu telat mengalami masa puber nya (maaf yang merasa). Mereka larut dalam konflik internal maupun eksternal, mungkin cinta yang terjadi antara lawan jenis, menjadi kecintaan yang terjadi antara aktivis tersebut, dan rasa kenasionalannya yang tinggi. Dan pada saat mereka melihat ada seorang wanita (bagi laki-laki) atau seorang lelaki (untuk perempuan) yang sedikit "imut" dimata mereka, biasanya mereka agresif, dan langsung menyerang. Biasanya setelah titik ini, mmereka mulai kendor dalam pemikiran, dalam aksi, dalam diskusi, dan biasanya menjadi seorang yang sangat melankolis. Biasanya pula, ada sedikit perubahan yang kentara dari mereka. Cukup menyeramkan memang…

Dan apabila mereka telah sadar dari hal tersebut, apabila mereka tak mampu mengendalikan diri, biasanya mereka hilang kewibawaanya, dan langsung jatuh dalam pelukannya si cintanya, dan sulit untuk kembali pada masa-masa kejayaannya dulu.

Lain halnya dengan orang yang kemudian tersadarkan dan mampu mengendalikan diri. Biasanya mereka malahan membuang jauh-jauh perasaan cinta tersebut, dan meninggalkan orang yang dikasihinya hingga ke jenjang yang lebih serius nanti, ketika ia telah mapan. Dan ia pun kembali menjadi seorang aktivis sejati, tanpa cinta, dan menurut saya, terlihat hampa.

Ada pula hal menarik lain dari seorang aktivis mengenai cinta. Dengan kemampuan biacaranya yang memang patut diakui di publik, ada yang biasanya menggunakan waktu senggangnya untuk bermain-main dengan cinta, mungkin sekedar mencari hiburan dibalik waktu-waktu penatnya. Bisa dibilang, memiliki pekerjaan sampingan sebagai  playboy kelas teri. Yang tidak serius, dan tidak terlalu berlebihan. Tapi tetap, membual pada banyak wanita.

Memang bisa diakui, aktivis lebih banyak diminati apalagi bagi para kaum hawa. Karena terlihat "keren" ketika sedang berorasi, berdiskusi, atau memberikan opini. Mereka terlihat layaknya pahlawan kampus. Jadi, wanita mana yang tidak mau dengan pahlawan yang terkenal?

Ada beberapa tips bagi para aktivis yang ingin aman dalam mengalami sebuah  perasaan cinta, yaitu :
  a. Pilihlah tipe yang sesuai dengan keaktifan kalian. Biasanya, seorang aktivis lebih nyambung apabila 
      memiliki pendamping seorang aktivis lagi. Jadi bisa saling memahami, dan mampu berkomunikasi dengan 
      baik,
  b. Jangan jadikan orang yang telah tepilih untuk kalian cintai tersebut, menjadi penghalang bagi karir kalian, 
      apabila menghalangi, ganti dengan yang lain, yang lebih tepat,
  c. Jangan menjadi berlebihan ketika sedang jatuh cinta, tetap berwibawa, tetap jaga image, dan tetap 
      berprinsip "Perjuangan ada ditangan Kita!",
 d. Yang paling penting, apabila telah jatuh cinta, tetapkan hanya satu itu, dan niatkan untuk kearah yang 
     lebih baik. Apabila sudah ada yang sama-sama mengawasi dia, sebelum janur kuning melengkung, tetap   
     kejar!!!
 e. Satu lagi, pernikahan adalah yang lebih baik dari hubungan apapun, jadi menikahlah wahai para aktivis 
     yang telah siap dalam segalanya.

Jadi, untuk para aktivis tak usah kuatir. Ternyata ada cara aman bagi mereka untuk jatuh cinta tanpa harus mengorbankan karir dan cinta mereka. Intinya, seimbanglah dalam hal tersebut. Otak kiri juga harus seimbang dengan otak kanan. Ok, semangat!

Baca Selengkapnya ...