Minggu, 03 Februari 2013

Tentang mengkritisi: Ngomong tanpa Bertindak

update twitter 4 Februari 2013

kalo mau memperbaiki, gausah cuma ngemeng2, dan cuma jadi penonton. masuk ke dalamnya, rubah birokrasi yg ada.

hanya mengamati, menjudge, dan tidak tau menahu data statistik yg ada, hanya berupa omong kosong yg tak berujung.

mengkritik itu mudah, mengamati itu gampang,. yg sulit memberikan solusi dan mau untuk merubah ke dalamnya. anda berani? saya tdk yakin

anda siap menjadi pengubah di dalamnya? wong ketika ditanya, anda selalu berfikir secara umum, 'rubah dulu diri sendiri, baru rubah yg lain'

mau sampai kapan? perubahan itu butuh kekonsistenan. berubah mudah, konsisten yg sulit. memperbaiki diri sendiri itu tdk ada ujungnya

apabila terus memperbaiki diri sendiri dan melupakan yg lain, bukannya terkesan egois? terkesan eksklusif? berhentilah untuk terus egois

berani mengkritik dan tidak bergerak. kalau anda siap, sini bareng saya kita merubah bersama tanpa harus banyak bicara.

kita saling berdiskusi, bukan saling mengkritisi yg berimbas utk menjatuhkan. tuangkan ide2 anda dan kita realisasikan bersama.

"berbicara dan mengkritisi itu mudah, tapi bertindak untuk melakukan sebuah perubahan itu yg sulit."
Baca Selengkapnya ...
Sabtu, 01 Desember 2012

Ikhlas: Yang tersembunyi di dalam yang Tersembunyi


Ikhlas itu sesuatu yang tersembunyikan, berbentuk abstrak, dan tidak ada yang mampu menggambarkannya secara detail ataupun nyata.
Ikhlas itu hanya bisa dirasakan, oleh yang merasa dan yang Maha Pemberi Rasa.

Ikhlas itu, sesuatu yang tersembunyi di dalam yang Tersembunyi.
Sebegitu tersembunyi nya sebuah kata ikhlas.

Ketika lidah berucap, "Gw ikhlas" "Gw mengikhlaskan" "Gw udah ikhlas koq", itu semata-mata hanya lidah yang berkata. Untuk rasa yang sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang tau. Bahkan terkadang, diri sendiri pun masih belum tau keberadaan ikhlas di hatinya. 

Memang benar ikhlas itu sulit, namun benar juga ikhlas itu mudah. Sulit sesulitnya menyentuh udara, mudah semudah menghirup udara. Ikhlas itu rumit, namun sederhana. Ikhlas itu ada, namun terkadang seolah tidak ada. 

Keikhlasan rasa cinta terhadap sahabat, keluarga, suami, anak.. Akankah itu diselimuti oleh keikhlasan, ataukah hanya sekadar kewajiban, ataukah ingin mendapatkan timbal balik? Cinta kepada Allah swt, dan pada Rasulullah swt?

Ada sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Ahmad Dhani dan Alm. Chrisye, 
"Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?"

Baca Selengkapnya ...
Kamis, 29 November 2012

Tentang "sindiran"


 teknik menyindir biasanya ampuh untuk mengingatkan sesama saudara kita yang melakukan kesalahan, atau sesuatu yg menyimpang

 namun terkadang teknik ini malah menimbulkan kecurigaan atau rasa sakit hati utk yg tersindir tanpa si penyindir sadari

 hal ini biasanya dilakukan karena apabila bicara secara langsung, malah akan menjadi perang mulut, dan sasaran pun menjadi meleset

 memang konteks untuk menyindir harus dipikirkan secara matang, untuk mendekatkan orang yang kita tuju, bukan malah menjauhkannya

 namun tetap saja, lebih baik menyindir secara langsung daripada harus mendahulukan ghibah
Baca Selengkapnya ...
Rabu, 28 November 2012

Review Buku: Negeri Para Bedebah - Tere Liye


Baru pertama kali ini gw baca bukunya Tere Liye, setelah sekian lama gw direkomendasikan oleh kawan-kawan yang sudah lama menjadi fansnya beliau. Tere-Liye adalah seorang penulis yang berasal dari tanah Sumatera. Buku nya yang sudah dibuat di layar lebar yaitu: Hafalan Shalat Delisha.

Beberapa waktu lalu, beliau mengeluarkan buku terbarunya yaitu Negeri Para Bedebah. Berhubung genre buku yang ini gw rada suka, gw langsung membeli tanpa membaca sinopsisnya terlebih dahulu. Dengan cover berwarna merah yang dihiasi gambar seorang laki-laki menggunakan jas dan memakai topeng dengan hidung panjang yang menyiratkan tipu muslihat dan kebohongan, ditemani seekor serigala berbulu domba.

Halaman pertama gw buka, dan gw langsung merasakan aura buku yang penuh dengan intrik politik dan permainan orang-orang kelas atas. 

sumber: google.com

Thom adalah seorang eksekutif muda yang sukses, tampan, cerdas, dan seorang pakar di bidang ekonomi. Dia dihadapkan masalah yaitu bangkrutnya Bank yang dikelola oleh keluarga pamannya. Bank ini adalah bank raksasa yang memiliki banyak nasabah 'besar', oleh karena itu kebangkrutannya adalah kebangkrutan dari orang-orang besar petinggi di negara ini.

Dengan kecerdasannya, Thom berhasil membawa kabur om nya dari kejaran aparat dan pemerintah. Dia dituntut untuk berhadapan dengan kawan-kawannya sesama petarung di suatu klub yang biasa dia kunjungi. Kawan-kawannya ini bukan sekedar petarung biasa, namun 'petarung' dalam berbagai bidang dalam skala nasional, dari mulai polisi, politikus, TNI, dan lain sebagainya. Dengan berbagai jaringan yang dia miliki ini, menjadi peluang baik untuknya, sekaligus menjadi hambatan untuk memperlancar aksinya.

Karakter Thom adalah seorang jenius yang mampu berpikir dingin dan mempertimbangkan segala gerak dan geriknya dengan matang. Ditambah karakter lain seperti Julia (seorang reporter cantik yang mendampingi Thom), dan juga sekretarisnya yang cerdas dan memiliki akses data yang tidak terkira.

Gw baca buku ini cukup dibawa berfikir dan dipermainkan emosinya. Juga bahasa dan istilah yang cukup berat, menjadi nilai tambah untuk membaca buku yang penuh dengan kejutan ini. Gw merasa, Tere-Liye menjadikan buku ini sebagai miniatur dari kehidupan kelas atas yang ada di penjuru dunia ini, dari berbagai kalangan, dan segala manipulasinya.

Sebuah buku yang sangat asyik untuk dibaca. jk
Baca Selengkapnya ...

Kebaikan yang Dicurigai



Sumber: google.com
"Si A kemaren sumbangannya ke pondok di atas 10 juta loh. Pasti biar bisa diliat orang kaya."


"Ngapain sih mereka pada heboh tentang Palestina, padahal biasanya cuek-cuek aja tuh. Mentang-mentang lagi rame aja, jadi pada latah."

"Ih si B tumben banget Solat Dhuha, pake baca Al-Qur'an pula. Lagi tobat ya mas?"

"Kamu ngapain nikah muda? Ga kuat ya? Udah, kerja dulu, lulus dulu."


Hummm..

Itu beberapa kalimat yang banyak terucap di lingkungan kita saat ini. Ko' orang mau berbuat baik wong dimarahi? Orang mau beramal ko' malah dicurigai, dikutuki? Memangnya surga cuma buat elo doang? Tentu saja jawabannya tidak, bukan?

Kebaikan orang lain kita curigai, sama saja kita berfikiran buruk atau bersuudzon terhadap sesama saudara kita. Silakan bersuudzon, namun sesuai porsinya. Suudzon untuk waspada dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke arah yang tidak baik, atau membahayakan diri sendiri, itu diperbolehkan. Namun apabila suudzon untuk amal perbuatan orang lain, untuk apa? Sebegitu pedulinyakah dengan amal ibadah orang lain?

Seharusnya kita bangga dan bahagia saudara-saudara kita itu diberikan hidayah-Nya untuk berbuat baik, dan mulai peduli dengan nilai spiritualitasnya. Untuk masalah isi hati atau niat yang ada di dalam diri mereka, itu sama sekali bukan urusan kita. Kita tidak berhak ikut campur untuk urusan orang lain dengan nilai spiritualitasnya.

Wajar kita heran atau bertanya-tanya karena adanya perubahan dari saudara kita yang tidak biasanya dia lakukan. Kita merasa asing, dan ada saja perasaan tidak terima dengan nilai positif yang ada di dalam diri mereka. Hati-hati, setan sedang mengaduk-aduk isi kepala kita. Ada rasa iri yang bercampur dengan suudzon serta tidak terima dengan kebaikan orang lain.

Cara untuk menghindari kecurigaan salah satunya dengan perbanyak berfikir positif. Gw pribadi mampu menyelesaikan masalah dengan berfikir positif, meski terkadang terasa sulit, karena banyaknya pikiran-pikiran negatif yang lebih mampu menyerang rongga pikiran dan hati kita. Namun, kekuatan untuk mau berfikir positif mampu dibangun oleh diri sendiri, dengan dibantu masukan-masukan dari lingkungan sekitar yang membangun. Apa salahnya kita tersenyum dan merasa bahagia dengan aura positif yang dipancarkan dari saudara kita? Dan mari kita tambah lagi aura positif yang ada, dengan meningkatkan nilai kebaikan dan ibadah pada diri kita.

Berlomba-lomba untuk kebaikan, bukan berkompetisi untuk memenangkan sebuah kebaikan. jk

Sumber: google.com

Baca Selengkapnya ...